0 Otoritas Alkitab (Bagian 8) : Teori Pengilhaman Alkitab

Pengilhaman Alkitab

Alkitab adalah Firman Allah, demikian pembahasan kita pada bab sebelumnya. Mengapa? Sebagaimana telah kita sudah lihat di atas, karena Alkitab mengatakan dirinya Firman Allah, karena Alkitab itu sungguh diilhami oleh Allah.

Ini jugalah yang menjadi keyakinan kaum Injili. Tetapi apakah artinya Alkitab diilhami Allah? Bagaimanakah hal itu terjadi? Sejauh manakah Alkitab diilhami oleh Allah? Jikalau Alkitab sungguh diilhami Allah, apakah akibat pengilhaman tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan kita bahas di bawah ini.

1. Arti Pengilhaman (Inspirasi)

Ada dua ayat penting dan terkenal yang berhubungan dengan pengilhaman ini. Ayat yang pertama adalah: "Segala tulisan diilhami Allah, memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran" (II Tim.3:16).



Sedangkan ayat yang kedua adalah: "Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah" (II Pet.1:20-21).

Untuk mengerti arti kata pengilhaman (dalam bahasa Inggris adalah inspiration; Theopneustos dalam bahasa Yunani), marilah kita melihat pandangan beberapa tokoh besar.

B.B. Warfield, salah seorang teolog besar abad ke-20, yang memiliki pandangan yang tinggi (sikap hormat) terhadap nilai inspirasi Alkitab, menegaskan:

"The Greek term has, however, nothing to say of inspiring or of inspiration: it speaks only of a 'spring' or 'spiration'. What it says of Scripture is, not that it is 'breathed into by by God' or is the product of the Divine 'in breathing' into its human authors, but that it is breathed out by God…the product of the creative breath of God".

Karena itu, Warfield menegaskan bahwa apa yang dinyatakan oleh ayat yang sangat penting ini adalah bahwa Alkitab adalah hasil karya Allah. Alkitab itu bersumber dari Allah, di mana Allah bukan sekedar melakukan tindakan pengilhaman kepada diri Penulis Alkitab, lalu Penulis dengan bebas menulis apa yang diilhamkan tersebut. Akan tetapi, Allah sendiri melalui dan dari diri Penulis mengatakan kebenaranNya. Dalam hal ini Warfield mengakui bahwa dalam ayat di atas tidak ada petunjuk bagaimana Allah beroperasi menghasilkan Alkitab tersebut.

Demikian juga, J.I. Packer, seorang guru besar di Regent College, Kanada, memiliki pandangan bahwa 'inspired by God' sebagai 'breathed out from God". Untuk memberi ide utama istilah ini, Packer mensejajarkannya dengan kitab Mazmur 33:6, yang berbunyi: "Oleh Firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulutNya segala tentaranya". Kemudian Packer menulis:

"… the thought here is that, just as God made the host of heavens by the breath of his mouth, through His own creative fiat, so we should regard the Scriptures as the product of a similar creative fiat". (Ide yang terkandung di sini adalah seperti Allah menjadikan segala tentara Sorga oleh nafas mulutNya, oleh kuasa penciptaanNya, demikian juga kita melihat Kitab Suci sebagai hasil dari ciptaan Allah).

Di pihak lain, I.H. Marshall, guru besar bidang Perjanjian Baru di Universitas Aberdeen, setelah memberikan 7 macam pandangan tentang arti inspirasi, menyimpulkan bahwa:

"The doctrine of inspiration is a declaration that the Scriptures have their origin in God; it is not and cannot be an explanation of how God brought them into being". (Ajaran pengilhaman adalah suatu pernyataan bahwa Alkitab bersumber dari Allah. Itu bukan dan tidak dapat memberi penjelasan bagaimana Allah menjadikan Alkitab).

Sementara itu, Millard J. Erickson membedakan inspirasi dengan wahyu.

Menurut Erickson, inspirasi adalah pengaruh supernatural dari Roh Kudus terhadap Penulis-penulis Alkitab yang menjadikan tulisan mereka :

"an accurate record of the revelation or which resulted in what they wrote actually being the Word of God". (Sebuah catatan yang tepat dari wahyu atau apa yang dihasilkan dari tulisan mereka sesungguhnya adalah Firman Allah").

Selanjutnya, dia melihat wahyu sebagai kebenaran yang disingkapkan Allah kepada manusia (Penulis-penulis), sedangkan inspirasi adalah tindakan Penulis-penulis tersebut untuk mengkomunikasikan wahyu tersebut di atas kepada orang-orang lain dalam bentuk tulisan.

Erickson menulis:

"Revelation might be thought of as a vertical action, and inspiration as a horizontal matter".

Karena itu, menurut Erickson, ada wahyu tanpa inspirasi dan ada juga inspirasi tanpa wahyu.

Kami setuju dengan Erickson bahwa dalam seluruh Alkitab ada pernyataan Alkitab
tersebut memiliki sumber yang bersifat ilahi atau "the actual speech of the Lord" (sabda Tuhan yang sesungguhnya).

Sebagaimana telah kita bahas di atas, Erickson menunjuk II Tim.3:16 dan II Pet.1:20-21 sebagai contoh bagaimana Penulis-penulis Alkitab Perjanjian Baru melihat Alkitab Perjanjian Lama sungguh-sungguh bersumber dari Allah.
Sejarah Perjajnjian Lama

Disamping itu, dia juga menunjuk Kis.1:16, yang berbunyi: "Hai saudara-saudara, haruslah genap nats Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas…" Ayat ini adalah merupakan kutipan dari Maz.69:25 dan Maz.109:8.

Di sini rasul Petrus tidak hanya melihat kata-kata Daud bersifat otoritatif (memiliki kuasa) tetapi bahkan melihat ucapan Daud tersebut sebagai sabda Allah yang sesungguhnya, di mana rasul Petrus melihat hal itu sebagai "…disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud. (Kis.1:16b; lihat juga Kis.3:18,21; 4;25).

Selanjutnya, mari kita lihat apa artinya "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat…" (II Tim.3:16). Dalam bahasa Yunani kalimat tersebut berbunyi: Pasa graphe Theopneustos kai ophelimos…"

Ada dua cara menterjemahkan kalimat dalam bahasa Yunani tersebut:
-Segala tulisan diilhamkan Allah juga bermanfaat; atau,
-Segala tulisan diilhamkan Allah bermanfaat…

Apa bedanya penterjemahan yang mengandung arti yang hampir sama tersebut di atas? Bila yang pertama yang diambil maka penekanan kalimat ada pada fungsi atau bermanfaatnya tulisan tersebut.

Tetapi bila yang kedua, maka penekanan kalimat ada pada peneguhan pengilhaman atau inspirasi seluruh tulisan (Alkitab Perjanjian Lama). Sebagai catatan di sini, cara Lembaga Alkitab Indonesia menterjemahkan dapat memberi kemungkinan yang lebih membahayakan, yaitu dengan adanya kata 'yang'; yaitu "segala tulisan yang diilhamkan Allah". Kata ini dapat memberi pengertian bahwa ada tulisan yang tidak diilhamkan Allah. Memang beberapa ahli theologia berpandangan demikian.

Cara manakah penterjemahan yang paling tepat? Erickson benar ketika dia menyimpulkan bahwa dari konteksnya kita tidak dapat menyimpulkan apa yang sesungguhnya yang mau disampaikan oleh rasul Paulus.

Di pihak lain, penterjemahan yang memberi peluang untuk mengerti bahwa ada tulisan yang tidak diilhamkan Allah telah ditolak dengan tegas oleh Prof. Marshall.

Dia menulis,

"… This suggestion can be confidently rejected, since no New Testament writer would have conceived of the possibility of a book being classified as Scripture and yet as not being inspired by God". (Pandangan yang mengatakan bahwa ada tulisan yang tidak diilhami Allah harus ditolak dengan tegas. Karena tidak ada Penulis Perjanjian Baru yang berpandangan adanya kitab yang dapat dimasukkan dalam kanon Kitab Suci tetapi sesungguhnya kitab itu tidak diilhami oleh Allah).

Karena itu, meskipun konteks tidak memastikan cara penterjemahan yang harus diambil (apa yang sesungguhnya maksud rasul Paulus), tetapi dari sikap Penulis-penulis Perjanjian Baru dalam memperlakukan Perjanjian Lama, dapat kita simpulkan bahwa Alkitab Perjanjian Lama, seluruhnya adalah diilhami Allah. Hal itulah yang kita lihat dari II Pet.1:19-21; Yoh.10:34-35; Luk.24:44-45.

Sekarang pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah, dapatkah pengertian tersebut di atas juga diterapkan untuk Alkitab Perjanjian Baru? Jawaban kita, dapat.

Sebagaimana Erickson juga menulis:

"It should be clear that these New Testament Writers regarded the Scriptures as being extended from the prophetic period to their own time" (Adalah jelas bahwa
Penulis-penulis Perjanjian Baru melihat Kitab Suci yaitu mulai dari periode Nabi-nabi Perjanjian Lama sampai ke zaman mereka).

Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh rasul Paulus pada II Tim.3:16 menjadi semakin jelas dari tulisan rasul Petrus pada II Pet.1:19-21.

Sebagaimana Warfield menulis:
"In that case, what Peter has to say of this 'every prophecy of Scripture' -the exact equivalent …in this case of Paul's 'every Scripture' (II Tim.3:16) - applies to the whole Scripture in all its parts".

Pdt. Mangapul Sagala

(bersambung).

P O P U L A R - "Last 7 days"