0 Otoritas Alkitab (Bagian 4) : Alkitab Adalah Firman Allah

Jesus My  God
Kedua, sikap Tuhan Yesus yang menerima dan menjunjung tinggi Alkitab

Sesungguhnya, Tuhan Yesus adalah teladan hidup kita, termasuk dalam sikapNya terhadap Kitab Suci. Selama hidup Tuhan Yesus di dunia ini, kita melihat ketaatanNya yang sempurna kepada Alkitab (Perjanjian Lama).

Sebagai contoh sangat nyata adalah ketika Dia mengalami pencobaan di padang gurun. Kita melihat dengan jelas bahwa semua godaan si Iblis dipatahkan dengan ketaatanNya kepada Firman. Menghadapi godaan tersebut, Dia mengutip Perjanjian Lama dengan memulai dengan mengatakan: "Ada tertulis…" (Mat.4:4,7,10).

Ada orang yang menafsirkan ayat ini dengan mengatakan bahwa Tuhan Yesus melawan Iblis dengan mengutip Firman, dalam arti Firman tersebut ditujukan buat si Iblis. Jika demikian, sepertinya, Iblis takut terhadap Firman.

Kami tidak setuju dengan penafsiran seperti ini. Kami lebih setuju dengan pandangan yang mengatakan bahwa Iblis tidak memerlukan Firman Tuhan. Karena itu, Dia mengutip itu bukan buat si Iblis, tetapi buat diriNya sendiri, untuk ditaatiNya. Sungguh, di sini kita melihat teladan yang sempurna sedang diperlihatkan oleh Tuhan Yesus kepada seluruh umatNya, termasuk kepada kita semua.

Di tengah-tengah pergumulan yang sangat berat, di mana Dia dicobai berkali-kali, Tuhan Yesus berkali-kali pula mengingatkan diriNya akan Firman Allah: "Ada tertulis…" Menarik untuk diperhatikan bahwa pada peristiwa tersebut di atas, Tuhan Yesus mengutip dari Kitab Ulangan.

Menurut kelompok tertentu, Kitab Ulangan bukanlah Firman Allah, tetapi hanyalah kata-kata Musa. Memang ada benarnya pendapat tersebut, karena memang hal itu dikatakan oleh Musa (lihat Ulangan 8:1). Namun penting untuk kita perhatikan bahwa istilah "Musa berkata" dan "Allah berfirman" sering saling ditukarkan. Jadi hal itu dilihat identik. Karena Musa berkata atas pimpinan dan kontrol Allah. Sebagai contoh, mari kita lihat keduaayat berikut:



"Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapanKu dan peraturanKu. Orang yang melakukannya akan hidup karenanya; Akulah Tuhan. (Imamat18:5).

"Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat. Orang yang melakukannya akan hidup karenanya" (Ro.10:5).

Contoh lain adalah ketika ahli Taurat dan orang-orang Farisi meminta tanda kepada Yesus. Yesus menegaskan:

"… tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal dalam rahim bumi tiga hari tiga malam" (Mat.12:39b-40).

Kutipan di atas juga menarik, karena banyak orang menolak kisah nabi Yunus tersebut. Menurut mereka, peristiwa yang diceritakan Alkitab tersebut, "Yunus dalam perut ikan" sungguh tidak masuk akal. Itu adalah dongeng. Hal itu hanya cocok untuk cerita anak-anak sekolah minggu.

Sedangkan untuk orang dewasa, yang benar, adalah "ikan dalam perut Yunus". Namun demikian, Tuhan Yesus menerima kebenaran kisah tersebut dan menjadikannya gambaran diriNya yang kelak juga akan ada di 'perut' bumi, dan bangkit pada hari ketiga.

Selanjutnya, jika kita melihat kisah dua orang murid Tuhan Yesus yang sedang berjalan menuju kota Emaus, di sana Tuhan Yesus bersabda: "… harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur" (Luk.24:44).

Hal itu dinyatakanNya untuk menjelaskan penderitaan dan kematianNya, di mana Dia dengan taat menjalaninya demi menggenapkannya.

Dengan tepat Prof. Donald Bloesch menulis:

"The absolute authority of faith, the living Christ Himself, has so bound Himself to the Sacred Scripture". (Penguasa mutlak iman itu, yaitu Kristus yang hidup itu sendiri, telah begitu mengikatkan diriNya kepada Kitab Suci).

Jika Tuhan Yesus telah memberi sikap yang sedemikian hormat dan taat kepada Alkitab, selayaknyalah kita juga mengikutinya. Ketika Tuhan Yesus menerimanya, siapakah kita yang berani menolaknya? Ketika Tuhan Yesus sedemikian menghormati Alkitab, siapakah kita sehingga berani meragukan dan merendahkannya?

Ketiga, superioritas dan keistimewaan ajaran Alkitab.

Sebenarnya dapat dikatakan bahwa isi sebuah kitab menggambarkan penulis (sumber kitab) tersebut. Karena itu, tulisan anak Sekolah Dasar dapat dibedakan dari tulisan mahasiswa di tingkat universitas. Hal itu cukup dilakukan dengan membaca isi tulisan tersebut, tanpa terlebih dahulu bertanya siapa penulis buku tersebut.

Demikian juga, jika Alkitab adalah Firman Allah, maka isinya akan menunjukkan hal tersebut. Dan memang demikian halnya yang kita temukan, ajaran Alkitab menunjukkan nilai superior dan bersifat istimewa jika dibandingkan dengan kitab-kitab lainnya, termasuk tulisan para filsuf sekalipun. Jika kita simak baik-baik, ajaran Alkitab bersifat mutlak dan universal, tidak dibatasi oleh tempat dan waktu.

Contoh, ajaran Alkitab tentang kasih, kebenaran, dosa, penciptaan, dan lain-lain. Mengenai kasih, Alkitab menguraikan: "Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong dan ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (I Kor.13:4-7).

Jika kita perhatikan dan renungkan makna kasih sebagaimana dituliskan di atas, kita pasti kagum. Adakah penjelasan dan penguraian kasih yang sedemikian dalam dan lengkap seperti penjelasan Alkitab tersebut di atas? Lalu, bicara tentang kebenaran dan dosa, kedua hal ini seringkali sulit didefenisikan. Itulah sebabnya, masing-masing orang dapat memberi pengertiannya sendiri tentang makna kata "kebenaran" dan "dosa".

Karena itu, pengertiannya bisa menjadi sangat relatif. Namun demikian, Alkitab dengan tegas dan jelas berbicara tentang kedua hal tersebut. Itulah sebabnya, ketika Daud, yaitu seorang raja yang begitu berkuasa penuh di zamannya, berzinah dengan Batsyeba, dia ditegur oleh nabi Natan (baca II Sam.12:1-15).

Raja Daud tidak bisa lari dari kebenaran Allah. Dia tidak bisa memutar balikkan kebenaran tersebut, betapa hebatpun kuasanya. Maka ketika dia diperhadapkan kepada kebenaran mutlak seperti itu, dia bertobat dan berkata: "Aku sudah berdosa kepada Tuhan" (II Sam.12:13).

Dalam pengakuan dosanya, raja Daud berteriak: "Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat" (Maz.51:6). Jadi, dari seruan Daud tersebut dapat kita lihat dengan jelas ukuran dosa, yaitu apa yang Allah anggap jahat.

Allah merupakan ukuran dan standard kebenaran. Sikap Daud tersebut juga menjadi contoh yang baik bagi umat yang percaya. Sekalipun dia raja yang sangat berkuasa, namun dia tetap menempatkan Firman Allah di atas kekuasaannya. Karena itu, dia tunduk terhadap Firman yang disampaikan oleh hambaNya.

Bicara soal moral, Alkitab juga memberikan prinsip moral yang sangat agung: "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka" (Mat.7:12).

Ada sebagian orang yang menilai Alkitab tidak ilmiah, dan karena itu, menurut mereka ini, hanya orang bodohlah yang dapat menerima dan mempercayainya. Namun kami melihat bahwa tuduhan tersebut keterlaluan dan sungguh menyangkali fakta yang ada. Pada kenyataannya, banyak ilmuwan dan orang yang sangat genius yang pernah hidup di bumi ini menaruh imannya pada Alkitab.

Dengan sangat mudah kita dapat menyebut nama-nama besar yang sangat setia kepada Alkitab. Sebagai contoh, Prof. C.S. Lewis (1898-1963), seorang yang sangat cerdas dan guru besar dari Universitas Oxford menegaskan bahwa tidak ada dokumen yang paling dapat dipercaya dan paling lengkap dibandingkan dengan Alkitab.

Contoh lainnya adalah Prof. W.F. Albright seorang ahli arkeologi menulis: "Tidak diragukan lagi bahwa arkeologi telah meneguhkan fakta-fakta sejarah yang penting dalam tradisi Perjanjian Lama".

Demikian juga dengan Prof. Miller Barrow dari Universitas Yale menulis: "Beberapa ahli purbakala makin lebih menghargai Alkitab karena pengalaman penggalian di Palestina dan ilmu purbakala membantah pandangan kritik modern dalam banyak masalah yang pernah dikemukakan".

Di pihak lain, Nelson Glueck menulis: "Tidak ada satupun penemuan purbakala yang bertentangan dengan keterangan- keterangan dalam Alkitab" .

Menarik sekali mengamati penegasan dan kesimpulan dari Arkeolog-Arkeolog tersebut di atas. Kelihatannya, ketika sebagian Teolog-Teolog meragukan Alkitab, Allah telah membangkitkan Arkeolog-arkeolog untuk menyatakan kebenaran Alkitab tersebut.

Sebenarnya, kalau kita mau jujur dan terbuka terhadap Alkitab, kita dapat menemukan pernyataan-pernyataan Alkitab yang sejalan dengan science. Sebagai contoh, kita membaca bahwa Alkitab mengatakan, bumi ini bulat (Yes.40:21-22); bumi berputar (istilah ini tidak muncul, tetapi pengertian adanya kondisi siang hari di satu tempat dan pada saat yang sama, malam hari di tempat lain, dapat dijelaskan dengan adanya perputaran bumi, baca Luk.17:24, 34-35).

Alkitab juga menjelaskan bahwa bintang tidak terhitung banyaknya (Kej.15:5). Semua pernyataan di atas, sejalan dengan ilmu pengetahuan.

www.mangapulsagala.com
(bersambung)

P O P U L A R - "Last 7 days"