0 Otoritas Alkitab (Bagian 3) : Alkitab Adalah Firman Allah

The Lord is My Light (Foto :Chris Howells | www.123rf.com)
Apa dasarnya seseorang menerima Alkitab sebagai Firman Allah?Ada orangberpandangan bahwa Alkitab harus dibuktikan terlebih dahulu sebagai Firman Allah baru diterima. Bagaimana tanggapan Anda terhadap metode penerimaan Alkitab dengan cara pembuktian tersebut? Sesungguhnya, kalau kita mau jujur, maka ada beberapa kesulitan yang muncul dengan metode pembuktian ini.

Pertama, kalau Alkitab adalah Firman Allah, apakah ada bukti yang cukup syarat untuk membuktikan kebenaran Alkitab tersebut? Kalau ada(sebenarnya tidak ada), apakah bukti tersebut tidak perlu dibuktikanlagi? Nah, kalau sudah begini, jadi seperti lingkaran setan, bukan?



Kedua, kalau kita mau menerima Alkitab sebagai Firman Allah berdasarkan bukti, manakah sekarang yang lebih tinggi dan berotoritas nilainya? Alkitab, atau bukti tersebut? Bolehkah hal ini terjadi? Seharusnya tidak boleh.

Ketiga, apakah peranan bukti terhadap yang dibuktikan? Jikalau Alkitab adalah Firman Allah, tetapi tidak ada yang berhasil membuktikannya sebagai Firman Allah, apakah Alkitab tersebut berubah menjadi bukan Firman Allah? Sebaliknya, jika ada kitab yang dianggap Kitab Suci dan berhasil dibuktikan sebagai Firman Allah -padahal sebenarnya bukan- apakah kitab tersebut berubah menjadi Firman Allah? Untuk hal ini,tentu kita semua dapat menjawabnya. Itulah sebabnya, kita harus menolak metode menerima Alkitab dengan pendekatan pembuktian.

www.dicklincoln.com
Jika demikian halnya, bagaimanakah seseorang dapat menerima Alkitab?Dalam hal ini, John Calvin memberi jawaban: "Biarlah Alkitab sendiri membuktikan dirinya sebagai Firman Allah. Sebagaimana siang mampu membedakan dirinya dari malam, terang dari gelap, demikian juga Alkitab mampu membedakan dirinya dari kitab-kitab lainnya, yang memang bukan Firman Allah". Atau seperti apa yang pernah ditegaskan oleh seorang pembicara seminar: "Kalau singa itu adalah singa sejati, biarkanlah dia
membuktikan kesejatiannya. Kita tidak usah ribut berdiskusi dan berdebat, apakah singa yang sedang kita lihat itu adalah singa sejati, atau hanyalah sebuah patung!".

Pendekatan seperti itulah yang disebut dengan the internal witness of the Holy Scripture (kesaksian internal Kitab Suci).

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah metode ini dapat diterima? Jawabnya, tentu, dan seharusnya demikian. Karena sesungguhnya kesejatian memiliki ciri-cirnya sendiri. Demikian juga sebaliknya. Karena itu, marilah kita melihat sepuluh alasan yang bersifat kesaksian internal, yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Alkitab adalah Firman Allah.

Pertama, Alkitab mengatakan dirinya Firman Allah.

Rasul Paulus menulis: "Segala tulisan diilhamkan Allah, memang bermanfaat untuk mengajar…" (II Tim.3:16) Jadi jelas terlihat dari ayat ini bahwa Alkitab diilhamkan Allah (kata diilhamkan dalam bahasa Yunani adalah qeopneustoV). Benar, kata "segala tulisan" menunjuk kepada Alkitab Perjanjian Lama.
Old Testament History

Karena itu, seorang bertanya, "Apakah semua tulisan dalam Perjanjian Lama diilhamkan oleh Allah? Bagaimana dengan keberatan kelompok tersebut di atas, bahwa ada 'firman iblis' dan nasehat dari sahabat-sahabat Ayub yang ternyata salah? Dalam hal ini, kita melihat pengertian Firman Allah secara langsung dan tidak langsung.

Maksudnya, kata-kata iblis tersebut di atas dan nasehat-nasehat dari Elifas dan kawan-kawannya telah diilhamkan Allah untuk ditulis dalam Alkitab. Tentu saja Allah tidak bermaksud mengilhami para penulis Alkitab untuk menulis hal tersebut supaya diikuti.

Sebaliknya, supaya pembaca Alkitab belajar dari padanya. Dengan perkataan lain, melalui hal itu, Allah ingin berfirman kepada manusia.

Kenyataan lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa kalimat, "Demikianlah Firman Allah", atau "Allah berfirman" sering kita dapati dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam kitab Musa. Sebagai contoh: Kej.1:3,6,9; Kel.5:1; 6:1; 7:1; Im.1:1; 4:1 dan seterusnya.

Perlu untuk kita ketahui bahwa dalam kitab Musa, istilah tersebut di atas terdapat kira-kira 800 kali, dan sekitar 2000 kali dalam seluruh Alkitab Perjanjian Lama.

Kita telah melihat Alkitab Perjanjian Lama, lalu bagaimana kita mengerti Perjanjian Baru sebagai kitab yang diilhami Allah juga? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat otoritas atau wibawa para Rasul.

Sebagaimana kita lihat dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus sendiri telah memilih mereka untuk menjadi murid-muridNya. Selama kurun waktu 3 tahun penuh Tuhan Yesus mengajar mereka melalui perkataan dan tindakan.
12 Disciples of Jesus Christ

Lebih dari itu, mereka menyaksikan sendiri apa yang dilakukan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus telah mempersiapkan mereka untuk kelak menjadi pemberita- pemberita Injil. Dia telah mengutus mereka dengan kuasa dari atas.

Dia juga berjanji mengutus Roh Kudus yang akan menyertai mereka. Dia bersabda: "Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" (Yoh.14:26). Sesungguhnya, ayat firman Tuhan ini sangat penting, khususnya berkenaan dengan apa yang sedang kita bahas. 

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita yakin bahwa Roh Kudus mampu memimpin para Penulis Alkitab Perjanjian Baru untuk menulis apa yang mereka dengar, lihat dan saksikan? Sehubungan dengan ini, baik sekali kita melihat apa yang ditegaskan dalam 1 Yoh.1:1-3:

"Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup - itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah
dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga…"
Jesus Christ

Sebagaimana Penulis katakan di atas, ayat ini sangat penting. Di sini ditegaskan pengalaman nyata penulis (rasul-rasul) dengan Tuhan Yesus. Hal itu ditegaskan dengan penggunaan kalimat perfect tense: telah kami dengar, telah kami lihat, telah kami saksikan, telah kami raba dengan tangan kami. Semua pengalaman tersebut sangat penting, dan sulit disangkali; terutama pengalaman "meraba dengan tangan".

Bagi orang Yahudi, indra yang paling kongkrit dan paling sulit disangkali adalah "meraba dengan tangan". Selain ayat penegasan ayat tersebut di atas, rasul Petrus juga menegaskan hal yang sama. Dia menuliskan:

"Yang terutama harus kamu ketahui ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah" (II Pet.1:20-21).

(bersambung)

P O P U L A R - "Last 7 days"